Teliti Dakwah Nasyid di Tengah Budaya Populer, Agus Idwar Jumhadi Raih Gelar Doktor Cum Laude
Agus Idwar Jumhadi, sosok yang telah lama malang melintang di dunia musik religi Indonesia, resmi menyandang gelar doktor setelah sukses mempertahankan disertasinya dalam Sidang Terbuka Program Doktor Ilmu Dakwah di Universitas Islam As-Syafi’iyah, Jakarta, pada Selasa (11/8/2026). Pencapaian akademis ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah kontribusi pemikiran yang mendalam mengenai masa depan dakwah melalui media seni suara. Dalam disertasinya yang berjudul "Paradigma Dakwah Trilogi Nasyid dalam Budaya Populer di Indonesia", Agus berhasil meraih predikat cum laude, sebuah pengakuan atas kebaruan dan signifikansi penelitiannya dalam membedah persinggungan antara dakwah Islam dan arus besar budaya populer.
Penelitian ini berangkat dari sebuah fenomena krusial: bagaimana sebuah bentuk kesenian yang identik dengan nilai-nilai religius mampu bertahan, bahkan berkembang, di tengah gempuran budaya populer yang serba cepat, komersial, dan cenderung sekuler. Agus Idwar melihat nasyid bukan lagi sebagai artefak kesenian yang statis, melainkan sebagai entitas yang dinamis. Melalui pendekatan kualitatif yang mendalam, ia merumuskan konsep "Trilogi Nasyid" sebagai pisau analisis utama untuk memahami transformasi nasyid di era digital dan industri musik modern.
Trilogi Nasyid yang diperkenalkan Agus mencakup tiga pilar fundamental: kemasan (packaging), lirik, dan munsyid (penyanyi nasyid). Menurut Agus, ketiga elemen ini merupakan garda terdepan dalam membangun kekuatan pesan dakwah sekaligus menciptakan daya tarik magnetis bagi audiens. Kemasan berbicara tentang aspek estetika visual dan auditorial yang harus mampu bersaing dengan tren musik populer arus utama. Lirik menjadi kendaraan pesan moral yang harus tetap kontekstual dengan problematika kekinian tanpa kehilangan ruh religiusitasnya. Sementara itu, munsyid berperan sebagai komunikator utama yang merepresentasikan nilai-nilai dakwah melalui sosok dan performanya.
Dalam paparan disertasinya, Agus mendefinisikan budaya populer sebagai budaya massa yang memiliki karakter kekinian, berorientasi pada aspek ekonomi, dan sangat dipengaruhi oleh mekanisme pasar. Pertemuan antara nasyid dan budaya populer bukanlah sebuah proses yang berjalan mulus tanpa tantangan. Sebaliknya, terjadi proses negosiasi dan adaptasi yang rumit antara nilai-nilai luhur dakwah dengan tuntutan industri musik. Di titik inilah, Agus menawarkan dua strategi kreatif yang ia sebut sebagai Sibghah dan Ikhtira’.
Sibghah atau "pencelupan" adalah strategi memberikan warna dan nuansa Islami terhadap bentuk-bentuk budaya populer yang telah lazim di masyarakat. Dengan kata lain, nasyid mengambil bentuk-bentuk musikal yang akrab di telinga masyarakat, namun mengisinya dengan substansi dakwah yang kental. Di sisi lain, Ikhtira’ atau "penciptaan" adalah strategi untuk melahirkan inovasi bentuk dan ekspresi nasyid yang baru dan orisinal. Melalui Ikhtira’, munsyid didorong untuk berani bereksperimen dengan genre, aransemen, dan gaya komunikasi baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya, sehingga nasyid tidak terjebak dalam repetisi yang membosankan.
Salah satu temuan paling menarik dari disertasi ini adalah bantahan terhadap stigma bahwa adaptasi terhadap budaya populer akan mengikis karakter dasar nasyid. Agus menegaskan bahwa nasyid tidak harus menjadi "budak" dari orientasi ekonomi budaya populer. Sebaliknya, nasyid sering kali menjadi antitesis bagi budaya populer yang komersial. Ketika industri musik populer cenderung menjadikan karya sebagai komoditas yang mengejar profit semata, para munsyid tetap memposisikan nasyid sebagai media penyampaian nilai, sarana membangun kesadaran kolektif, dan alat pembinaan spiritual. Inilah yang Agus sebut sebagai ketahanan identitas dakwah di tengah arus budaya populer yang deras.
Keberhasilan penelitian Agus Idwar tidak terlepas dari pengalamannya yang panjang sebagai praktisi nasyid. Ia memahami betul bahwa munsyid bukan sekadar penyanyi, melainkan agen perubahan (agent of change) yang memiliki tanggung jawab moral di pundaknya. Oleh karena itu, dalam paradigma yang ia tawarkan, ia menekankan bahwa orientasi dakwah harus tetap menjadi kompas utama. Meskipun kemasan dibuat semenarik mungkin layaknya produk industri, esensi nasyid sebagai media dakwah tidak boleh terdegradasi menjadi sekadar hiburan kosong.
Sidang terbuka yang digelar di Universitas Islam As-Syafi’iyah tersebut menjadi saksi betapa pentingnya pemikiran ini. Ruang sidang dipenuhi oleh tokoh-tokoh penting dari berbagai lintas disiplin ilmu dan latar belakang. Kehadiran musisi ternama seperti Opick, yang dikenal melalui tembang "Tombo Ati", serta komposer legendaris Dwiki Dharmawan, memberikan bobot praktis pada disertasi ini. Kehadiran mereka menegaskan bahwa apa yang diteliti oleh Agus bukan sekadar teori di atas kertas, melainkan refleksi nyata dari apa yang dialami oleh para musisi religi di lapangan.
Selain kalangan musisi, hadir pula Neno Warisman yang selama ini dikenal aktif dalam gerakan dakwah dan seni, serta tokoh-tokoh penting dari lembaga zakat dan kebijakan publik seperti Ahmad Juwaini dari Dompet Dhuafa, Arifin Purwakananta dari BAZNAS, Presiden PKS Almuzzammil Yusuf, hingga Ketua DPRD DKI Jakarta, Suhud Alynudin. Kehadiran para tokoh ini menunjukkan bahwa isu nasyid dan dakwah memiliki spektrum yang luas, mulai dari aspek spiritual, sosial, hingga kebijakan publik.
Dalam penutup disertasinya, Agus Idwar menyimpulkan bahwa budaya populer sebenarnya adalah medan dakwah yang luas dan potensial. Budaya populer dapat mengubah cara nasyid dikemas dan didistribusikan melalui platform digital, namun hal itu tidak harus mengubah ruh dan orientasi dakwahnya. Trilogi Nasyid yang diperkuat dengan strategi Sibghah dan Ikhtira’ terbukti menjadi formula yang efektif agar nasyid tetap relevan dan mampu berdialog dengan zaman tanpa kehilangan identitas keislamannya.
Paradigma ini memberikan harapan baru bagi dunia dakwah di Indonesia. Nasyid kini memiliki landasan akademis yang kuat untuk terus bertransformasi. Agus Idwar membuktikan bahwa estetika, etika, spiritualitas, dan kreativitas bukanlah variabel yang saling bertentangan. Keempatnya justru dapat disatukan dalam sebuah harmoni yang komunikatif dan membumi. Dengan meraih gelar doktor cum laude, Agus Idwar Jumhadi tidak hanya menorehkan sejarah bagi dirinya sendiri, tetapi juga memberikan peta jalan (roadmap) bagi para pegiat dakwah melalui seni untuk terus berkarya di tengah derasnya arus budaya populer yang dinamis.
Penelitian ini pada akhirnya mengajak kita untuk melihat bahwa dakwah tidak harus kaku dan tertinggal oleh zaman. Sebaliknya, dakwah haruslah kreatif, adaptif, dan mampu menguasai media untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan. Agus Idwar telah menunjukkan bahwa dengan kecerdasan strategi dan keteguhan prinsip, nasyid akan tetap menjadi media yang relevan, dicintai, dan mampu menyentuh sanubari masyarakat Indonesia di masa depan. Gelar doktor yang ia raih adalah apresiasi bagi dedikasi panjangnya dalam memadukan antara dakwah dan seni, sebuah langkah besar yang diharapkan mampu memicu lahirnya pemikiran-pemikiran kreatif lainnya dalam memperkuat dakwah Islam di era modern.





