Pemain Ketoprak di Bantul Meninggal Saat Pentas, Sempat Dikira Bagian dari Lakon
Sebuah peristiwa tragis yang menggetarkan hati terjadi di Dusun Petung, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di tengah kemeriahan suasana perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, panggung kesenian rakyat yang semestinya menjadi ajang sukacita justru berubah menjadi lokasi duka mendalam. Sarjiyono, seorang seniman ketoprak yang akrab disapa Mbetut (62 tahun), mengembuskan napas terakhirnya tepat di atas panggung saat sedang memerankan karakternya. Kepergian sang seniman senior ini meninggalkan luka mendalam bagi rekan-rekan sesama pemain dan masyarakat setempat yang menyaksikan pertunjukan tersebut secara langsung.
Kejadian memilukan ini berlangsung pada Selasa (18/8/2026) dini hari, tepatnya sekitar pukul 00.00 WIB. Saat itu, kelompok ketoprak "Karya Budaya" sedang membawakan lakon klasik berjudul "Ontran-Ontran Kademangan Dadapan". Sarjiyono, yang telah lama mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan kesenian tradisional ini, tampil dengan penuh semangat memerankan tokoh panjak. Penampilannya yang totalitas selalu berhasil memukau penonton yang memadati halaman rumah warga di Dusun Petung. Namun, tak ada yang menyangka bahwa aksi panggung tersebut menjadi penampilan terakhir bagi pria yang beralamat di Ngrame RT 02, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Bantul tersebut.
Detik-detik peristiwa tragis itu terekam dalam video amatir yang kemudian viral di berbagai platform media sosial. Dalam tayangan berdurasi singkat tersebut, terlihat Sarjiyono tengah berdialog dengan rekan sesama pemain di tengah panggung. Tiba-tiba, tubuhnya limbung dan jatuh tersungkur ke lantai panggung. Awalnya, baik penonton maupun rekan-rekan sesama pemain mengira bahwa jatuhnya Sarjiyono adalah bagian dari improvisasi akting atau adegan dramatis dalam lakon yang sedang dimainkan. Hal ini wajar terjadi dalam pertunjukan ketoprak, di mana para pemain seringkali melakukan gerak teatrikal yang ekspresif untuk menghidupkan suasana cerita.
Namun, kecurigaan muncul ketika Sarjiyono tidak kunjung bangkit atau memberikan reaksi setelah terjatuh cukup keras. Rekan-rekan pemain yang berada di dekatnya mulai mendekat untuk memastikan kondisinya. Suasana panggung yang tadinya penuh tawa dan sorak-sorai penonton seketika berubah menjadi sunyi mencekam. Setelah menyadari bahwa rekan mereka benar-benar tidak sadarkan diri, panitia acara dan pemain lainnya segera menghentikan pertunjukan. Mereka segera melakukan upaya pertolongan pertama, namun nasib berkata lain. Sarjiyono dinyatakan meninggal dunia, diduga kuat akibat serangan jantung mendadak yang dialaminya saat sedang berupaya memberikan hiburan terbaik bagi masyarakat.
Kasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto, memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut pada Sabtu (22/8/2026). Ia membenarkan bahwa pihak kepolisian telah menerima laporan mengenai seniman yang meninggal dunia saat sedang pentas di Dusun Petung. "Benar, telah terjadi orang meninggal dunia saat pentas seni ketoprak dalam rangka Agustusan di Dusun Petung, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul," ujar Iptu Rita. Pihak kepolisian juga telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan meminta keterangan dari sejumlah saksi yang berada di lokasi saat kejadian berlangsung. Dari hasil pemeriksaan sementara, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban, sehingga kematian Sarjiyono murni dianggap sebagai musibah medis.
Kematian Sarjiyono di atas panggung menjadi pengingat bagi kita semua tentang betapa rapuhnya kehidupan. Sosok Mbetut dikenal di kalangan komunitas seniman Bantul sebagai pribadi yang sangat mencintai seni ketoprak. Dedikasinya terhadap kesenian tradisional ini tak perlu diragukan lagi. Bahkan di usianya yang sudah menginjak 62 tahun, ia masih aktif berlatih dan tampil dari panggung ke panggung demi menghibur masyarakat. Baginya, ketoprak bukan sekadar tontonan, melainkan napas hidup yang ia jaga dengan sepenuh hati. Gugurnya Sarjiyono saat sedang "berjuang" di atas panggung dianggap sebagai akhir yang tragis namun heroik bagi seorang seniman sejati.
Bagi masyarakat Dusun Petung dan warga Bantul pada umumnya, sosok Sarjiyono adalah bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kebudayaan lokal. Kepergiannya meninggalkan kekosongan besar dalam kelompok ketoprak Karya Budaya. Rekan-rekan seprofesinya mengaku sangat terpukul. Mereka mengenang Sarjiyono sebagai sosok yang ceria, penuh humor, dan selalu memberikan motivasi kepada pemain yang lebih muda. "Beliau adalah guru sekaligus sahabat bagi kami. Saat pentas, ia selalu memberikan yang terbaik agar penonton puas," ujar salah satu rekan pemain yang enggan disebutkan namanya.
Insiden ini juga memicu simpati luas dari warganet. Banyak yang membagikan video detik-detik kematian Sarjiyono sebagai bentuk penghormatan terakhir. Di kolom komentar, ribuan ucapan belasungkawa mengalir deras. Banyak pula yang memuji dedikasi almarhum yang tetap berusaha tampil maksimal meskipun mungkin saat itu kondisi kesehatannya sedang tidak prima. "Seorang seniman sejati wafat saat sedang menjalankan tugas mulianya, yaitu menghibur orang lain," tulis salah satu netizen. Komentar-komentar tersebut mencerminkan betapa besarnya rasa kehilangan masyarakat terhadap sosok seniman yang tulus ini.
Pemerintah Kabupaten Bantul melalui Dinas Kebudayaan juga menyampaikan duka cita mendalam atas berpulangnya salah satu seniman terbaik daerah tersebut. Peristiwa ini diharapkan menjadi perhatian bagi para pelaku seni untuk lebih memperhatikan kondisi fisik sebelum tampil di panggung, terutama bagi para seniman senior. Pentas seni yang melibatkan aktivitas fisik dan emosional yang tinggi tentu memerlukan ketahanan tubuh yang baik. Pihak penyelenggara acara seni ke depannya diharapkan dapat menyediakan tim medis atau setidaknya kotak P3K yang memadai di dekat panggung untuk mengantisipasi kejadian darurat serupa.
Jenazah Sarjiyono kemudian disemayamkan di rumah duka di Ngrame, Tamantirto, dan dimakamkan di pemakaman umum setempat. Prosesi pemakaman dihadiri oleh ratusan pelayat yang terdiri dari keluarga, tetangga, serta rekan-rekan seniman dari berbagai penjuru Bantul. Isak tangis keluarga pecah saat jenazah sang seniman diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir. Kepergian Sarjiyono tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga menjadi catatan sejarah tersendiri bagi dunia kesenian rakyat di Yogyakarta.
Meskipun pertunjukan "Ontran-Ontran Kademangan Dadapan" berakhir dengan duka, semangat yang ditinggalkan oleh Sarjiyono akan terus hidup. Kelompok ketoprak Karya Budaya berkomitmen untuk tetap meneruskan perjuangan sang almarhum dalam melestarikan kesenian ketoprak. Mereka percaya bahwa cara terbaik untuk menghormati mendiang Sarjiyono adalah dengan terus berkarya dan memastikan seni tradisi ini tidak mati ditelan zaman. Setiap kali panggung ketoprak didirikan di Bantul, sosok Mbetut akan selalu dikenang sebagai seniman yang wafat di medan juangnya sendiri.
Kejadian di Bantul ini menjadi cerminan bahwa menjadi seorang seniman bukanlah pekerjaan ringan. Di balik riasan wajah dan kostum yang megah, ada keringat, air mata, dan pengorbanan yang seringkali tidak terlihat oleh penonton. Sarjiyono telah membuktikan bahwa kecintaannya terhadap seni budaya melampaui rasa lelahnya sendiri. Ia telah memberikan segalanya, hingga napas terakhirnya, untuk memastikan tradisi lisan dan pertunjukan rakyat tetap lestari di tanah kelahirannya.
Sebagai penutup, kisah Sarjiyono bukan sekadar berita tentang kematian seorang pemain ketoprak. Ini adalah kisah tentang pengabdian, tentang cinta yang tulus pada seni, dan tentang bagaimana sebuah kehidupan bisa berakhir dengan cara yang tak terduga namun bermakna. Semoga almarhum Sarjiyono mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan semoga dedikasi yang ia berikan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus mencintai dan menjaga warisan budaya bangsa. Dunia panggung kehilangan salah satu bintangnya, namun warisan semangatnya akan tetap abadi dalam setiap detak pertunjukan ketoprak di masa depan. Kita semua mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi ujian yang sangat berat ini. Selamat jalan, Mbetut. Panggungmu mungkin telah berakhir, namun nama dan karyamu akan selalu terkenang dalam setiap lembar sejarah ketoprak Bantul.




Tinggalkan Balasan