Uncategorized 5 menit baca

Jadi Inspektur Hari Sumpah Pemuda ke-98, Menpora: Jadikan Ilmu dan Karya Bukti Cinta Indonesia

Jadi Inspektur Hari Sumpah Pemuda ke-98, Menpora: Jadikan Ilmu dan Karya Bukti Cinta Indonesia

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menegaskan bahwa masa depan Indonesia tidak akan terwujud melalui retorika semata, melainkan melalui akumulasi karya nyata, ketajaman ilmu, dan pengorbanan tulus dari generasi mudanya. Pernyataan ini disampaikan Erick saat memimpin upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke-98 di Taman Proklamasi, Jakarta Pusat, pada Rabu (28/10/2026). Di bawah langit Jakarta yang cerah, ia mengajak seluruh elemen pemuda untuk menanamkan tiga pilar utama dalam diri: patriotisme, kegigihan, dan empati sebagai landasan pembangunan bangsa di masa depan.

Upacara yang berlangsung khidmat di lokasi bersejarah tersebut dihadiri oleh Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Taufik Hidayat, jajaran pejabat Kemenpora, serta ratusan pemuda dari berbagai latar belakang. Kehadiran delegasi dari Wirasena Youth Camp dan peserta Singapore-Indonesia Youth Leaders Exchange Programme (SIYLEP) memberikan warna internasional pada peringatan kali ini, yang menunjukkan bahwa semangat Sumpah Pemuda tidak hanya relevan bagi domestik, tetapi juga dalam pergaulan global.

Dalam pidatonya yang bertajuk "Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia," Erick membawa audiens kembali ke momen krusial 28 Oktober 1928. Ia mengingatkan bahwa Sumpah Pemuda bukanlah sekadar catatan sejarah yang tersimpan di buku pelajaran, melainkan sebuah kontrak sosial yang telah menyatukan ribuan pulau, bahasa, dan suku menjadi satu entitas bernama Indonesia. Baginya, semangat tahun 1928 adalah api yang tidak boleh padam, bahkan harus terus disulut agar relevan dengan tantangan abad ke-21.

Erick menyoroti pergeseran makna kemajuan di mata generasi muda. Seringkali, kemajuan disalahartikan sebagai keberhasilan membangun infrastruktur megah, adopsi teknologi mutakhir, atau penumpukan kekayaan yang fantastis. Padahal, menurut Menpora, kemajuan sejati adalah tentang kualitas karakter manusia yang mengoperasikan teknologi dan menempati gedung-gedung tinggi tersebut. Tanpa fondasi karakter yang kuat, kemajuan material hanya akan menciptakan bangsa yang rapuh secara moral.

Oleh karena itu, Erick menekankan pentingnya tiga nilai utama. Pertama, patriotisme yang diwujudkan melalui aksi, bukan sekadar orasi. Patriotisme di era modern berarti bagaimana pemuda berani mengambil tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah di komunitas mereka, mulai dari isu lingkungan, pendidikan, hingga inovasi ekonomi kreatif. Kedua, kegigihan. Dalam dunia yang bergerak sangat cepat, kegagalan adalah hal yang tak terelakkan. Namun, pemuda Indonesia harus memiliki daya tahan mental (resilience) yang tinggi, di mana setiap jatuh menjadi pelajaran untuk bangkit dengan strategi yang lebih matang.

Ketiga, dan yang paling krusial, adalah empati. Erick memberikan kritik tajam bahwa kepintaran tanpa empati akan melahirkan keserakahan, dan keberhasilan tanpa kepedulian akan menciptakan ketimpangan. Pemuda yang hebat adalah mereka yang mampu meraih puncak prestasi sambil tetap menoleh ke bawah untuk membantu sesama yang tertinggal. Patriotisme tanpa kepedulian akan kehilangan maknanya, sementara kegigihan tanpa nurani akan kehilangan arah.

Sebagai tambahan data, momentum HSP ke-98 ini menjadi krusial karena Indonesia tengah berada pada puncak bonus demografi yang diproyeksikan akan berakhir pada 2030-an. Kemenpora di bawah kepemimpinan Erick Thohir terus mendorong program-program pengembangan kepemimpinan pemuda yang berbasis pada soft skills dan adaptabilitas digital. Data dari Kemenpora menunjukkan bahwa keterlibatan pemuda dalam sektor ekonomi digital dan kewirausahaan sosial meningkat signifikan dalam tiga tahun terakhir. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah untuk melahirkan generasi emas yang tidak hanya kompetitif secara teknis, tetapi juga memiliki jiwa korsa yang kuat sebagai bangsa yang beradab.

Menpora juga secara khusus menyinggung peran delegasi internasional seperti SIYLEP yang hadir dalam upacara tersebut. Ia menekankan bahwa dalam dunia yang semakin saling terhubung (interconnected), pemuda Indonesia harus memiliki visi global namun tetap berpijak pada nilai-nilai luhur budaya bangsa. Kemampuan untuk berkolaborasi dengan pemuda dari negara lain adalah syarat mutlak bagi Indonesia untuk bisa memenangkan persaingan global tanpa kehilangan jati diri.

Lebih jauh lagi, Erick menantang para pemuda untuk tidak lagi menjadi penonton di tengah perubahan zaman yang masif. Ia mendorong agar setiap anak muda berani menggantungkan cita-cita setinggi langit, namun tetap memiliki kerendahan hati untuk belajar dari kesalahan. Pemuda diharapkan menjadi pemimpin yang melayani—sebuah konsep kepemimpinan yang menempatkan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadi. Dalam konteks Indonesia 2026, kepemimpinan yang melayani ini sangat dibutuhkan untuk menavigasi tantangan perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, dan polarisasi sosial.

Dalam sesi akhir pidatonya, Erick memberikan pesan penutup yang menyentuh bagi seluruh generasi penerus bangsa. Ia meminta agar setiap karya, sekecil apa pun, diniatkan sebagai bentuk syukur dan cinta kepada Tanah Air. Apakah itu melalui penemuan ilmiah, karya seni, pengabdian di pelosok desa, atau sekadar aksi sosial kecil di lingkungan sekitar, semuanya adalah bukti bahwa Indonesia sedang tumbuh dan bergerak maju.

Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 ini menjadi penegasan bahwa pemerintah berkomitmen untuk menciptakan ruang bagi pemuda untuk berekspresi dan berinovasi. Erick menutup dengan seruan optimisme: "Mari kita bangun generasi yang patriotik dalam pengabdian, gigih dalam perjuangan, dan berempati dalam kemanusiaan." Ia mengingatkan bahwa masa depan bukanlah sesuatu yang tiba-tiba datang dan menghantam kita, melainkan sesuatu yang kita bangun hari demi hari, langkah demi langkah, melalui setiap keputusan dan tindakan yang kita ambil saat ini.

Dengan berakhirnya upacara tersebut, pesan Menpora diharapkan dapat memicu semangat baru di kalangan organisasi kepemudaan, komunitas, dan mahasiswa di seluruh pelosok negeri. Tantangan yang ada di depan mata, mulai dari ekonomi global hingga isu lingkungan, membutuhkan pemuda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas dan empati yang mendalam. Sejarah telah mencatat apa yang dilakukan oleh pemuda tahun 1928, dan kini giliran generasi 2026 untuk menuliskan bab selanjutnya dalam sejarah bangsa dengan tinta emas berupa karya yang nyata dan pengabdian yang tak kenal lelah.

Sebagai penutup, Erick kembali menekankan bahwa kunci utama dari keberlanjutan bangsa ini terletak pada kemampuan pemuda untuk terus beradaptasi tanpa melupakan akar sejarahnya. Sumpah Pemuda bukan hanya soal mengenang masa lalu, tetapi soal memproyeksikan kekuatan kolektif bangsa menuju Indonesia yang lebih adil, makmur, dan disegani di kancah internasional. Dengan semangat patriotik, gigih, dan empati, ia yakin Indonesia akan mampu melewati berbagai rintangan menuju visi besar bangsa di masa depan, karena di tangan merekalah nasib bangsa ini dititipkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *