Uncategorized 6 menit baca

KSP Dudung Abdurachman Tinjau Langsung Irigasi di Deli Serdang, Pastikan Swasembada Pangan Lewat Program Padat Karya

KSP Dudung Abdurachman Tinjau Langsung Irigasi di Deli Serdang, Pastikan Swasembada Pangan Lewat Program Padat Karya

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman melakukan aksi lapangan yang tidak biasa saat meninjau kondisi infrastruktur pertanian di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, pada Senin (21/9). Alih-alih menggunakan kendaraan dinas resmi yang konvensional, Dudung memilih mengendarai sepeda motor untuk menyusuri area persawahan yang sulit dijangkau. Langkah ini diambil sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam memastikan bahwa program pembangunan infrastruktur irigasi benar-benar menyentuh akar rumput dan mengalirkan air hingga ke petak-petak sawah milik petani. Peninjauan ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja KSP untuk memantau langsung implementasi proyek Infrastruktur Berbasis Masyarakat (IBM) dalam Program Percepatan Peningkatan Guna Air Irigasi (P3-TGAI).

Dalam lawatannya, Dudung tidak hanya sekadar melihat bangunan fisik saluran irigasi, tetapi juga menyambangi langsung Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) yang berada di lokasi. Fokus utama dari peninjauan ini adalah memastikan efektivitas distribusi air yang krusial bagi keberlangsungan produksi pangan nasional. "Saya melihat secara langsung bagaimana program P3-TGAI, petani pengguna air. Program ini untuk memastikan bahwa proyek irigasi ini bermanfaat sampai ke petak-petak sawah dan ladang milik petani, dan memastikan air mengalir ke lahan-lahan," ujar Dudung di sela-sela kunjungannya.

Dialog hangat antara KSP dan para petani menjadi momen penting dalam kunjungan tersebut. Dudung mendengarkan secara saksama testimoni para petani mengenai dampak positif perbaikan jaringan irigasi tersier yang telah dilakukan. Menurutnya, keberhasilan sektor pertanian sangat bergantung pada kelancaran suplai air. "Tadi saya cek, dan ini merupakan suatu kewajiban mutlak dari pemerintah pusat sampai ke bawah. Tadi saya tanya juga kepada masyarakat, dengan adanya program ini air mengalir, kemudian peningkatan produksi padi pun semakin meningkat," tegasnya.

Dudung menjelaskan secara rinci mengenai teknis pelaksanaan program ini. Ia menekankan perbedaan antara jaringan irigasi primer dan sekunder yang dikelola oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dengan jaringan tersier yang kini dikerjakan langsung oleh masyarakat melalui sistem swakelola. Jaringan tersier adalah urat nadi terakhir yang membawa air dari saluran utama menuju lahan garapan petani. Dahulu, pembangunan jaringan ini seringkali terkendala koordinasi, namun kini pemerintah memberikan kepercayaan penuh kepada kelompok tani untuk mengelolanya secara mandiri. "Selama ini para petani membuat jaringan tersier dibantu oleh Babinsa, mungkin Bhabinkamtibmas. Sekarang mereka sendiri langsung dikasih anggarannya untuk membuat tersier ini," jelasnya.

Kebijakan ini merupakan manifestasi dari komitmen pemerintah untuk tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur megah seperti jalan tol, pelabuhan, atau bandara internasional, tetapi juga memberikan perhatian besar pada infrastruktur yang bersentuhan langsung dengan ekonomi masyarakat bawah. "Pemerintah tidak hanya membangun infrastruktur besar, tetapi juga menyiapkan infrastruktur yang berbasis kepada masyarakat, yang dikerjakan secara swakelola oleh masyarakat. Anggarannya langsung kepada masyarakat, dengan anggaran dari APBN," tambahnya.

Program P3-TGAI ini merupakan implementasi nyata dari Inpres Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan yang menjadi acuan nasional. Skala program ini sangat masif, mencakup 37 provinsi di seluruh Indonesia dengan total alokasi anggaran mencapai Rp14,63 triliun. Khusus untuk wilayah Sumatera Utara, pemerintah mengucurkan dana sebesar Rp527,50 miliar yang tersebar di 21 kabupaten/kota. Angka yang fantastis ini diharapkan mampu menciptakan dampak ekonomi ganda (multiplier effect), di mana selain memperbaiki saluran irigasi, program ini juga menjadi sarana pemberdayaan tenaga kerja lokal.

Di Kabupaten Deli Serdang sendiri, terdapat 57 titik lokasi pengerjaan dengan target penyerapan 38.475 tenaga kerja. Sementara di Kabupaten Serdang Bedagai, cakupannya lebih luas yakni 86 titik lokasi dengan target penyerapan tenaga kerja mencapai 58.050 orang. Hal ini menunjukkan bahwa program ini tidak hanya berfungsi sebagai penguat sektor pertanian, tetapi juga sebagai stimulus ekonomi bagi masyarakat pedesaan melalui skema padat karya.

Dudung menegaskan bahwa langkah strategis ini diambil sebagai respon langsung atas arahan Presiden untuk mencapai swasembada pangan yang berdaulat. Indonesia, sebagai negara agraris, dinilai tidak seharusnya bergantung pada impor komoditas pangan. Dengan infrastruktur irigasi yang tertata baik, produktivitas petani diharapkan meningkat secara signifikan, yang pada akhirnya akan menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan petani di daerah.

Ia juga menyoroti pentingnya pengawasan berlapis dalam pelaksanaan proyek ini. Menurutnya, kualitas pekerjaan harus dipantau secara ketat dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi agar anggaran yang bersumber dari APBN benar-benar memberikan manfaat jangka panjang. "Saya yakin kualitas irigasi yang diawasi oleh desa, kecamatan, kabupaten, sampai tingkat provinsi ini akan semakin maksimal dan mampu berjalan. Saya mengecek langsung untuk memastikan bahwa program pemerintah ini berjalan lancar. Mudah-mudahan pengembangan ini akan semakin meningkat, tentunya anggaran APBN sekarang betul-betul menyentuh masyarakat," pungkasnya.

Lebih jauh, keterlibatan aktif Babinsa dan Bhabinkamtibmas dalam pendampingan program ini dipandang sebagai bentuk sinergi antara TNI, Polri, dan masyarakat dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Kehadiran elemen keamanan di lapangan bukan untuk mengintervensi, melainkan memastikan bahwa dana bantuan tersalurkan dengan tepat sasaran, efisien, dan tanpa penyimpangan. Hal ini menjadi kunci kepercayaan publik terhadap pengelolaan anggaran negara yang bersifat padat karya.

Program P3-TGAI diharapkan dapat menjadi model pembangunan berkelanjutan di masa depan. Dengan memberikan otonomi kepada petani untuk memperbaiki saluran irigasi mereka sendiri, rasa memiliki terhadap aset infrastruktur tersebut akan jauh lebih tinggi. Hal ini berbanding lurus dengan pemeliharaan infrastruktur yang nantinya akan dilakukan secara gotong royong oleh warga setempat. Ketika air mengalir lancar, kekhawatiran petani akan gagal panen akibat kekeringan dapat diminimalisir, sehingga musim tanam dapat dilakukan lebih sering dan volume produksi beras nasional bisa terdongkrak.

Dalam jangka panjang, pemerintah menargetkan bahwa perbaikan jaringan irigasi ini bukan sekadar proyek fisik sekali selesai, melainkan pondasi bagi modernisasi pertanian Indonesia. Infrastruktur yang baik adalah syarat mutlak bagi penggunaan teknologi pertanian yang lebih maju. Dengan air yang melimpah dan merata, petani dapat mulai beralih pada varietas padi unggul atau metode tanam yang lebih intensif yang membutuhkan kecukupan air yang stabil.

Kunjungan KSP Dudung Abdurachman ke Deli Serdang memberikan pesan kuat bahwa pemerintah hadir di tengah kesulitan petani. Pilihan transportasi motor dalam meninjau lokasi menjadi simbol bahwa birokrasi harus turun ke lapangan, merasakan medan yang dihadapi petani, dan tidak terpaku pada kenyamanan kantor. Dengan sinergi yang solid antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan komunitas petani, target swasembada pangan bukan lagi sekadar impian, melainkan tujuan yang sangat mungkin dicapai dalam waktu dekat. Masyarakat pun menyambut antusias program ini karena dampaknya yang instan, yakni air yang mengalir deras ke sawah-sawah mereka setelah sekian lama mengalami hambatan irigasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *