Presiden RI: BRICS Miliki Modal Bangun Abad Hijau
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa negara-negara anggota BRICS memegang peranan kunci dalam transisi energi global melalui kepemilikan mineral kritis dan sumber energi yang melimpah. Dalam pidatonya pada sesi terbuka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS yang berlangsung di Bharat Mandapam, New Delhi, India, pada Ahad (13/9/2026), Presiden Prabowo memaparkan visi strategis mengenai bagaimana blok ekonomi ini mampu menjadi lokomotif utama dalam mewujudkan "Abad Hijau" di tengah ancaman krisis iklim yang semakin nyata.
Menurut Presiden Prabowo, dunia saat ini berada di persimpangan jalan di mana kebutuhan akan energi bersih dan teknologi ramah lingkungan menjadi prioritas utama bagi setiap negara. Indonesia, sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam, memandang bahwa kekuatan kolektif negara-negara BRICS—yang kini mencakup berbagai kekuatan ekonomi berkembang—merupakan modalitas yang tak tertandingi untuk mengubah peta jalan pembangunan global menuju arah yang lebih berkelanjutan. "Begitu juga dengan negara-negara BRICS. Bersama-sama kita memiliki secara signifikan mineral kritis dan sumber energi. Kita memiliki segalanya yang akan menjadi landasan abad hijau," ujar Prabowo di hadapan para pemimpin dunia yang hadir.
Pernyataan ini bukan sekadar retorika diplomatik, melainkan sebuah ajakan strategis untuk mengintegrasikan potensi domestik menjadi kekuatan geopolitik dan geoeconomi. Indonesia sendiri saat ini memiliki cadangan mineral kritis yang sangat dibutuhkan oleh industri masa depan, seperti nikel, kobalt, dan tembaga, yang merupakan komponen vital bagi baterai kendaraan listrik dan penyimpanan energi terbarukan. Selain itu, Indonesia memiliki kekayaan logam tanah jarang (rare earth elements), potensi energi baru terbarukan (EBT) yang melimpah—mulai dari tenaga surya, angin, hingga panas bumi—serta kawasan hutan tropis yang luas sebagai penyerap karbon alami.
Namun, Presiden menyadari bahwa kekayaan alam saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan sinergi antarnegara. Oleh karena itu, ia mendorong agar negara-negara BRICS dan mitranya berhenti memandang bencana iklim sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Sebaliknya, setiap tantangan iklim harus dipandang sebagai variabel yang saling berkelindan dengan ketahanan nasional dan stabilitas ekonomi jangka panjang. "Kita harus melihat hubungan dekat antara resiliensi perubahan iklim dan perkembangan nasional. Indonesia tidak sendiri menghadapi tantangan ini, banyak anggota BRICS dan negara-negara Global South menghadapi masalah terkait yang sama," tegas Prabowo.
Tema KTT BRICS 2026, yaitu "Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability: Shaping the Future for Inclusive Global Growth," menjadi landasan filosofis dalam seruan Prabowo. Ia menekankan bahwa untuk menciptakan pertumbuhan global yang inklusif, negara-negara BRICS harus mampu menyatukan kapasitas produksi, kemampuan teknologi, dan penguasaan pasar. Selama ini, negara-negara berkembang sering kali hanya menjadi pengekspor bahan mentah tanpa memiliki kendali atas rantai pasok teknologi tinggi. Dengan berkolaborasi, Prabowo optimistis bahwa BRICS dapat mengubah paradigma tersebut.
Dalam pandangan Presiden, penyatuan sumber daya ini akan menciptakan "kekuatan tawar" yang signifikan di pasar internasional. Ketika BRICS bersatu, mereka tidak hanya menjadi penyedia bahan baku bagi dunia, tetapi juga menjadi pemain utama dalam industri pengolahan dan teknologi hijau. Langkah ini akan memberikan nilai tambah bagi ekonomi domestik masing-masing negara anggota dan mengurangi ketergantungan pada blok ekonomi lain yang sering kali menerapkan standar yang tidak adil bagi negara berkembang.
Lebih jauh, Prabowo menekankan pentingnya kolaborasi dalam riset dan pengembangan (R&D) teknologi hijau. Dengan berbagi keahlian dan teknologi, negara-negara BRICS dapat mempercepat transisi energi tanpa harus mengorbankan pertumbuhan ekonomi. Ia mencontohkan bagaimana integrasi antara pasar yang besar di negara-negara BRICS dengan kapasitas produksi yang mumpuni dapat menciptakan skala ekonomi yang kompetitif bagi produk-produk ramah lingkungan.
Dalam konteks ketahanan iklim, Prabowo juga menyoroti perlunya pembangunan infrastruktur yang adaptif. Bencana alam yang sering terjadi akibat perubahan iklim, seperti banjir, kekeringan, dan kenaikan permukaan air laut, menuntut investasi besar pada infrastruktur yang tangguh. Kerjasama antarnegara BRICS dalam hal pendanaan pembangunan dan pertukaran data mitigasi bencana akan menjadi kunci untuk menjaga keberlangsungan hidup masyarakat di negara-negara Global South.
Presiden Prabowo menutup pernyataannya dengan seruan untuk mengakui nilai strategis dari apa yang dimiliki oleh negara-negara BRICS. Ia mengajak seluruh pemimpin yang hadir untuk tidak hanya memikirkan kepentingan nasional masing-masing, tetapi juga melihat gambaran besar tentang bagaimana blok ini bisa memberikan kontribusi nyata bagi dunia yang lebih adil dan berkelanjutan. "Oleh karena itu, langkah pertama adalah mengakui nilai dari apa yang kita miliki dan menggunakan kekuatan ini untuk saling membantu," pungkasnya.
Visi yang disampaikan oleh Presiden Prabowo ini sejalan dengan aspirasi banyak negara berkembang yang ingin keluar dari jeratan jebakan pendapatan menengah (middle income trap) melalui industrialisasi hijau. Jika inisiatif ini berhasil diwujudkan, BRICS berpotensi tidak hanya menjadi organisasi politik, tetapi juga menjadi aliansi strategis yang mendefinisikan standar baru bagi ekonomi global di abad ke-21.
Di masa depan, ketergantungan dunia pada mineral kritis akan semakin meningkat seiring dengan target net zero emission yang dicanangkan oleh berbagai negara. Dengan posisi Indonesia sebagai produsen nikel terbesar di dunia dan dukungan dari negara anggota BRICS lainnya yang memiliki keunggulan komparatif di bidang energi dan teknologi, kolaborasi ini diprediksi akan menjadi pengubah permainan (game changer) yang krusial dalam menjaga keseimbangan iklim bumi sekaligus menjamin kesejahteraan rakyat di negara-negara berkembang.
Presiden Prabowo Subianto, melalui pidatonya di New Delhi, telah menegaskan posisi Indonesia sebagai pemimpin yang visioner dalam isu transisi energi. Dengan mengedepankan kerjasama yang inklusif dan keberlanjutan, Indonesia berkomitmen untuk terus berperan aktif dalam memperkuat posisi BRICS sebagai garda terdepan dalam membangun masa depan yang lebih hijau, inovatif, dan sejahtera bagi seluruh umat manusia. Langkah ini menjadi bukti bahwa Indonesia siap untuk memimpin dan berkolaborasi dalam menghadapi tantangan global yang paling mendesak di era modern ini.



Tinggalkan Balasan